The Prominence Office Complex Block 38G/18 Alam Sutra, Tangerang, Banten INDONESIA 0888-1314-300 | 021-300-52588 | 021-300-52589

bom london

Foto: CNN Indonesia

Peristiwa teror yang terjadi di area gedung parlemen Inggris di London pada Rabu 22 Maret 2017 kemarin menyebabkan empat orang tewas dan empat puluh orang lainya terluka. Peristiwa tersebut disebut – sebut sebagai penyebab menurunya kinerja bursa – bursa di Eropa yang menyebabkan mayoritas bursa di sana ditutup di teritori negatif. FTSE turun mencapai 0,73% sementara DAX dan CAC turun berturut – turut sebesar 0,48% dan 0,15%.

Sebenarnya apa kaitan antara teror dan bursa saham? Dan bagaimana kita menyikapi serangan teror tersebut dengan kaitanya dengan portofolio saham yang kita miliki? Simak penjelasanya berikut ini.

Seperti kita ketahui bahwa pasar saat ini lebih digerakkan oleh persepsi dan sentimen. Ketika dua hal tersebut terbentuk secara seragam dan bersamaan di masyarakat investor yang luas, maka hal tersebut akan membentuk pergerakan market. Misalnya ketika terjadi teror yang mendadak di tempat yang tidak terduga, maka orang-orang akan cenderung untuk mengamankan aset mereka karena ketidakpastian kondisi keamanan, sehingga aksi jual saham pun tidak terhindarkan, hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan harga secara bersamaan.

Apabila kita runut ke belakang, aksi teror sejak awal tahun 2000 hampir selalu menimbulkan penurunan pada bursa saham. Yang paling awal adalah serangan di gedung WTC New York pada September 2011, saat itu bursa wall street anjlok sebesar 14%. Kemudian pada bom Madrid pada 2004 dan bom London pada 2005 indeks di negara bersangkutan turun sebesar 2,2 % dan 1,4%. Ketiga peristiwa tersebut tidak hanya berpengaruh pada market di negara bersangkutan, tapi juga ke negara kita dimana IHSG juga mengalami penurunan.

Di dalam negeri sendiri sempat terjadi pula beberapa serangan bom. Yang paling diingat tentu pada tragedi teror bom di Bali tahun 2002 yang langsung merontokkan IHSG sebanyak 10%. Kemudian pada 2009 di hotel JW Marriot Jakarta, saat itu pasar saham turun sebanyak 2,1%. Di awal 2016 saat serangan teroris di Sarinah, IHSG juga turun sebanyak 1,56%.

Apabila kita cermati dari data di atas, pelemahan market yang terjadi akibat serangan teror dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Ini menunjukkan bahwa investor semakin cerdas dan paham bahwa investasi di saham merupakan investasi jangka panjang, sehingga pergerakan pasar hanya disebabkan oleh kepanikan sesaat.

Yang terbaru, pada peristiwa kemarin dimana mayoritas bursa Eropa mengalami penurunan akibat serangan teroris, bursa kita tetap kuat dan bahkan mencatatkan kenaikan sebesar 0,54% pada penutupan sesi pertama.

Kesimpulanya,

Kita tidak perlu panik dalam menyikapi peristiwa teror. Memang ada dampaknya pada jangka pendek seperti pariwisata, namun hal tersebut akan segera pulih karena fundamental ekonomi tidak terpengaruh banyak. Dan hal ini tergambar pada bursa kita pada siang hari ini dimana pasar tidak melakukan aksi panic selling dan indeks justru terangkat ke atas.

0