Uncategorized

Meneropong SRIL dari sisi bisnis, kompetitor, prospek dan strategi tradingnya

Saham SRIL belakangan ini menjadi saham favorit para trader. Hal tersebut tidak terlepas dari volatilitasnya yang tinggi sehingga memudahkan untuk trading cepat. Namun tahukah Bapak/Ibu sekalian mengenai seluk beluk dalam bisnis SRIL secara mendalam? Di newsletter kali ini kami akan membahas saham SRIL mulai dari sejarah bisnisnya, kompetitor, prospeknya ke depan dan strategi untuk trading di saham ini.

Yak, kita mulai.

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1966 oleh H.M. Lukminto yang berawal sebagai perusahaan dagang tradisional di Pasar Klewer Surakarta dan dikenal dengan nama Sritex. Dari menjual produk-produk tekstil dan pemahaman mengenai proses produksinya, pada tahun 1968 HM Lukminto membangun pabrik tekstil di Solo yang didaftarkan ke Departemen Perindustrian  pada tahun 1974 dan status perusahaanya berubah dari UD (Unit Dagang) menjadi Perseroan Terbatas  pada tahun 1978. Semenjak itu, perusahaan terus berkembang hingga menjadi sebuah perusahaan terintegrasi yang memiliki empat lini produksi berupa pemintalan, penenunan, pencelupan dan garmen.

Pada tahun 1994, Sritex untuk pertama kalinya memperoleh kepercayaan dari Pemerintah Jerman untuk memproduksi seragam militer bagi Tentara Jerman, dan dari situlah Sritex kemudian membangun reputasinya sebagai salah satu produsen seragam militer paling terkemuka di dunia. Selain melayani pasar luar negeri, penjualan domestik juga lumayan besar. Perbandingan penjualanya adalah  47,7% di pasar domestik dan 52,3% di luar negeri dengan jangkauan penjualan mencapai lebih dari 100 kota di 56 negara.

Para pelanggan Sritex, termasuk di antaranya adalah produsen-produsen terbesar di dunia di wilayah hilir industri tekstil-garmen seperti yang berasal dari India dan Tiongkok, termasuk para pemilik merek ritel terkenal, Sritex adalah salah satu dari sedikit pemasok di luar Eropa yang mendapat sertifikasi untuk memproduksi seragam militer Jerman dan negara-negara NATO lainnya.

 Setelah pensiun pada tahun 2006, posisi pimpinan perusahaan digantikan oleh putra pertamanya yaitu Iwan Setiawan Lukminto. Di generasi Iwan Lukminto ini perkembangan Sritex menjadi lebih cepat dan bahkan listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013. Kemudian di tahun tersebut Sritex juga berhasil mengakusisi perusahaan pemintalan PT Sinar Pantja Djaja sehingga  mengatasi ketergantungan perseroan terhadap kebutuhan bahan baku serta melipatgandakan kapasitas produksi garmenya.

Di Indonesia, SRIL saat ini menjadi leading company di bidang tekstil dengan jumlah aset yang paling besar mencapai 12,7 Triliun . Kompetitor SRIL di perusahaan tekstil yang juga listing di bursa seperti Pan Brothers (PBRX) dan Apac Citra Centertex (MYTX) secara total aset dan kinerja belum mampu menyaingi.  PBRX saat ini hanya mempunyai total aset sebesar 6,3 Triliun dan MYTX bahkan lebih kecil lagi yaitu hanya 1,8 Triliun. Secara kinerja, SRIL bisa mencatatkan operating margin berkisar antara  15,7% – 17% sementara PBRX hanya berkisar 3% – 4,9%. Untuk MYTX tidak perlu dibahas mendalam karena sejak tahun 2008 perusahaan ini selalu mengalami kerugian sehingga kinerjanya menjadi yang terburuk di antara saham-saham tersebut.

Prospek perusahaan Sritex secara garis besar masih cukup bagus. Ekspansi perusahaan mulai dari membangun pabrik baru, meningkatkan efisiensi, menambah diversifikasi produk maupun menambah jaringan pelanggan terbilang sukses sampai saat ini. Dan bahkan proses ekspansi dan efisiensi tersebut masih akan berlanjut. Misalnya pada bulan ini dimana SRIL merilis obligasi baru dengan bunga yang lebih rendah untuk menutupi pembayaran obligasi sebelumnya yang memiliki bunga lebih besar. Jadi, apabila tidak ada kejadian luar biasa, kinerja SRIL akan tetap berlanjut positif untuk ke depanya.

Sekarang dari sisi pergerakan sahamnya, SRIL seperti yang kita ketahui, mempunyai pola pergerakan yang volatile dan bergerak secara tiba – tiba. Misalnya pada akhir Februari lalu dimana saham ini mengalami kenaikan sebesar 82% hanya dalam waktu sembilan hari perdagangan, kemudian mengalami penurunan sebesar 43% dalam waktu kurang dari setengah bulan. Jadi untuk trading di saham ini, disiplin cut loss harus selalu diterapkan. Khusus untuk nasabah Phillips, penggunaan trailing stop di saham ini sangat disarankan, karena pergerakan saham yang tiba – tiba terkadang sulit diikuti oleh trader yang tidak selalu stand by di depan monitor. Misalnya di siang ini ketika harga SRIL turun tajam mencapai lebih dari 12%, apabila menggunakan trailing stop maka keuntungan yang kita dapat sebelumnya masih dapat kita nikmati.

Terima Kasih.