Morning Review

Membuka awal pekan, sanggupkah IHSG bergerak menguat?

Pergerakan IHSG kami prediksikan masih akan bergerak melemah meski terbatas, dipengaruhi oleh anjloknya bursa regional Asia pada pembukaan pagi ini karena sentimen reformasi pajak di Amerika yang terancam ditunda. Penurunan harga komoditas yang terjadi serempak juga akan menekan indeks. Secara teknikal, penutupan candle Jumat lalu menunjukkan adanya tekanan jual yang masih kuat dan saat ini menuju garis tengah bollinger band di 5995 yang akan menjadi support kuatnya. Namun demikian, RSI dan Stochastic sudah berada di zona netral sehingga penurunan indeks akan terbatas.

Bursa Amerika akhiri rally

Indek Dow Jones pada perdagangan Jumat lalu ditutup turun 0,17% tertekan oleh saham – saham teknologi seperti Facebook, Netflix dan Alphabet yang bergerak melandai. Selain Dow Jones, S&P 500 juga turut melemah 0,09% sedangkan Nasdaq masih mampu bertahan dengan penguatan tipis 0,01%.

Bursa Eropa Anjlok

Sejumlah indeks utama di Eropa seperti CAC Perancis, DAX Jerman dan FTSE Inggris bergerak melemah di kisaran 0,5%  setelah aksi wait and see investor menjelang rilis laporan keuangan batch kedua sejumlah emiten.

Minyak tertekan peningkatan jumlah rig

Harga minyak WTI kembali melemah 0,61% menuju level USD 56,74 per barel tertekan oleh rilis data Baker Hughes yang menyatakan bahwa jumlah rig yang beroperasi di ladang-ladang minyak Amerika Serikat meningkat sebanyak sembilan rig menjadi total 738 rig minggu ini.

Batubara menguat

Hargaq batubara di bursa Rotterdam mulai bisa keluar dari tekanan dan mencetak penguatan sebesar 1,02% ke level USD 93,65 per ton. Namun demikian, di bursa Newcastle untuk kontrak di bulan yang sama, harga batubara masih bergerak turun 0,21%.

CPO masih akan bergerak di kisaran harga tertinggi

Harga CPO Jumat lalu melemah 0,43% ke level 2.797 ringgit per ton karena adanya aksi profit taking. Meskipun demikian, hingga akhir tahun ini harga CPO diprediksi masih akan bergerak naik menyusul adanya potensi gangguan produksi sawit akibat fenomena La Nina.


Image source: fm.cnbc.com

Author


Avatar