The Prominence Office Complex Block 38G/18 Alam Sutra, Tangerang, Banten INDONESIA 0888-1314-300 | 021-300-52588 | 021-300-52589
Market Updates

Siang tadi BPS merilis data neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2017 yang  mengalami surplus sebesar USD895 juta dimana ekspor Indonesia mencapai USD15,09 miliar atau meningkat 3,62% dibanding September 2017. Sementara nilai impor pada Oktober 2017 mencapai USD14,19 miliar atau naik 11,04%.

Meskipun demikian, surplus neraca dagang tersebut jauh lebih rendah dari dibanding surplus bulan sebelumnya yang mencapai USD 1,76 miliar dan di bawah perkiraan ekonom di angka USD 1,3 – 1,7 miliar. Hal ini memberi sentimen negatif bagi IHSG disamping sentimen dari melemahnya  bursa region Asia yang memerah sore ini. Sebagai hasilnya, IHSG ditutup melemah 0,27% menuju level 5972,31 yang mana merupakan level terendahnya hari ini.

Hanya dua sektor menguat

Dari sepuluh sektor yang menopang bursa, delapan di antaranya bergerak melemah dengan penekan terbesar pada sektor mining (-1,79%) karena melemahnya harga komoditas dan sektor aneka industri (-1,28%) yang disebabkan anjloknya saham ASII. Adapun dua sektor yang menghijau hanyalah infrastructure (+0,18%) dan finance (0,25%).

Asing net sell hampir 1 Triliun

Hingga penutupan, outflow asing dari bursa cukup besar senilai 956,38 miliar yang disumbangkan oleh net sell di pasar nego sebesar 607 miliar dan di pasar reguler hanya sebesar 348 miliar. Saham – saham yang menjadi top net sell asing di antaranya adalah KPIG, ARII, BHIT, UNVR dan INKP.

Bursa Asia Serempak melemah

Sejumlah indeks acuan utama di bursa Asia sore ini ditutup melemah mengikuti pergerakan bursa Amerika dan Eropa yang bergerak turun karena anjloknya saham – saham berbasis sumber daya dan minyak bumi.

Kondisi tersebut semakin diperparah oleh rilis data ekonomi Jepang yang menunjukkan pertumbuhan GDP kuartal ketiga hanya sebesar 1,4% yang mana lebih rendah dari perkiraan di angka 1,5%. Untuk diketahui, di kuartal sebelumnya pertumbuhan GDP Jepang mencapai 2,6%.

Sebagai hasilnya, indeks Nikkei Jepang anjlok hingga 1,51% lebih dalam dibanding penurunan indeks regional lain seperti Kospi, Korea (-0,33%), Shanghai Composite China (-0,79%) dan Hang Seng, Hong Kong (-0,78%).  Adapun STI Singapura dan ASX Australia juga turut melemah -0,87% dan -0,58%.

 

Image source: theneweconomy.com

0

Morning Update

Pergerakan IHSG hari ini kami prediksikan akan kembali mixed dengan kecenderungan untuk melemah. Minimnya sentimen positif dan anjloknya harga – harga komoditas membuat pasar tidak bergairah. Secara teknikal IHSG juga telah menembus support di garis tengah bollinger band sehingga trend penurunan masih mungkin berlanjut. Namun demikian, dilihat dari RSI dan Stochastic, IHSG saat ini sudah berada di zona netral dan mulai bergerak mendekati zona oversold sehingga penurunan indeks akan terbatas.  

Bursa Amerika melemah

Tiga indeks acuan utama Wall Street kompak bergerak melemah di kisaran 0,2% setelah saham General Electric merosot 5,9%  serta penurunan harga minyak yang memukul saham – saham berbasis energi.

Bursa Eropa tidak bertenaga

Bursa Eropa masih belum bisa keluar dari rentetan trend negatifnya setelah kemarin indeks Stoxx Europe 600 kembali melemah 0,6% tertekan oleh penurunan saham bahan baku dan emiten – emiten terkait minyak bumi.

Harga minyak turun tajam

Minyak WTI anjlok cukup dalam hingga 2,43% ke level USD 55,34 per barel terpukul oleh kenaikan tak terduga pada persediaan minyak mentah di Amerika yang menunjukkan kenaikan stok minyak mentah sebesar 6,51 juta barel pekan lalu.

Batu bara masih terkapar

Seiring jatuhnya harga minyak, batubara mengikuti dengan penurunan yang tidak kalah tajam. Di bursa Newcastle untuk kontrak pengiriman Desember, harganya merosot hingga 1,76% sedangkan di Rotterdam, anjlok sampai 1,82%.

Data impor India mengecewakan, CPO tertekan

Kemarin The Solvent Extractors’ Association of India merilis data impor minyak sawit India naik 1,1% pada Oktober dibandingkan dengan tahun sebelumnya menjadi 747.658 metrik ton. Kenaikan ini di bawah prediksi yang semula 2%. Sebagai hasilnya, harga CPO turun tajam hingga 1,52% ke level 2718 ringgit per ton.

 

Image source: cdn2.tstatic.ne

0