The Prominence Office Complex Block 38G/18 Alam Sutra, Tangerang, Banten INDONESIA 0888-1314-300 | 021-300-52588 | 021-300-62689
Market Updates

Pergerakan IHSG hari ini sebelum sesi pre closing mayoritas berada di zona merah dengan rentang antara 6025 – 6058. Namun penjualan serempak di saham – saham Blue Chip pada sesi penutupan membuat indeks terpaksa anjlok hingga ke level 5952,14 atau turun 109,23 poin (1,80%) yang sekaligus menjadi level terendahnya hari ini. Secara total outflow asing dari bursa mencapai 1,55 triliun didominasi penjualan besar di saham BBCA (-392 miliar), UNVR (-201 miliar), SMRA (-174 miliar), BBRI (-159 miliar) dan TLKM (-158 miliar).

Hanya dua sektor yang menguat

Dari sepuluh sektor yang menopang bursa hanya dua yang bergerak menguat yaitu sektor agri yang naik 0,38% karena reboundnya harga CPO akibat terganggunya distribusi akibat cuaca buruk dan sektor mining yang naik tipis 0,04% seiring menguatnya harga batubara. Delapan sektor lain bergerak melemah dengan penekan terbesar pada sektor aneka industri (-3,53%) setelah saham ASII roboh hingga -4,49%. Disusul oleh sektor consumer goods yang anjlok -3,19% dan manufacture (-3,01%).

Penurunan saham teknologi hancurkan bursa Asia

Pergerakan bursa Asia hari ini hampir semuanya bergerak di zona merah mengikuti pergerakan bursa Wall Street dimana investor berbondong – bondong melakukan aksi profit taking di saham teknologi.

Dari daratan China, indeks Shanghai Composite dan Hangseng masing – masing anjlok sebesar 0,62% dan 1,21%. Disusul oleh Taiwan Weighted yang merosot hingga  1,43%. Adapun indeks Kospi Korea menjadi yang paling parah dengan penurunan sebesar 1,45% seiring ambruknya saham Samsung Electronic sebesar 3,42%.

Meski demikian, kejatuhan saham – saham teknologi justru menjadi berkah bagi bursa Jepang karena berpindahnya dana investor ke saham – saham finansial yang berkapitalisasi besar mampu mendorong penguatan indeks. Sebagai hasilnya, Nikkei 225 ditutup naik 0,57%.


Image source: www.enr.com

0

Morning Review

Pergerakan IHSG hari ini kami perkirakan akan bergerak melemah terbatas cenderung mixed karena pengaruh bursa regional Asia yang mayoritas dibuka melemah pagi ini. Belum pulihnya harga komoditas seperti minyak dan CPO akan turut membebani market meskipun batubara dan logam industri mulai menunjukkan tanda – tanda rebound. Secara teknikal, stochastic sudah membentuk dead cross yang mengindikasikan bearish, didukung candle terakhir IHSG yang membentuk doji menunjukkan bahwa pasar masih diliputi keraguan untuk melanjutkan kenaikanya.

Melihat data – data tersebut potensi windows dressing di akhir bulan ini bisa dibilang cukup kecil, apalagi mengingat akhir pekan ini terdapat libur panjang dimana  investor akan cenderung menghindari posisi beresiko.

Dow Jones kembali pecahkan rekor

Bursa Amerika bergerak mixed dimana indeks Dow Jones berhasil pecahkan rekor tertinggi dua hari beruntun dengan kenaikan 0,44%, namun Nasdaq anjlok cukup tajam sebesar 1,27% karena investor melepas saham teknologi yang sebelumnya sudah naik tinggi dan beralih ke saham bank dan saham lainnya yang masih berpotensi naik karena membaiknya ekonomi dan peraturan pajak.

Minyak masih melemah

Harga minyak WTI memeperpanjang pelemahanya tiga hari berturut – turut dengan penurunan sebesar 0,79% menuju level USD 57,42 per barel. Harga minyak masih dibayangi keraguan tentang rencana perpanjangan upaya pemangkasan suplai di antara OPEC dan Rusia.

Batubara bergerak menguat

Harga batubara serempak menguat di kedua bursa utama dunia. Di bursa Newcastle untuk kontrak Desember, batubara naik 0,62% sedangkan di Rotterdam untuk kontrak pengiriman di bulan yang sama harganya melonjak hingga 1,09%.

Logam industri mulai rebound

Meski sentimen negatif dari pengetatan kredit beresiko di China masih ada, namun harga logam industri mencetak rebound dimana harga nickel mulai menguat 0,44% sedangkan timah dan tembaga naik tipis 0,13%  dan 0,1%.

Harga CPO terus anjlok

Harga minyak sawit lagi – lagi mengalami penurunan, kali ini sebesar 0,93% menuju level 2563 ringgit per ton. Kekhawatiran berkurangnya demand internasional seiring maraknya kampanye negatif CPO turut mempengaruhi harga pasar dan diperparah oleh merosotnya harga komoditas substitusi yaitu minyak kedelai.


Image source: ak5.picdn.net

0