Morning Review

Hari terakhir bulan November, bagaimana potensi windows dressing hari ini?

Pergerakan IHSG hari ini kami perkirakan akan bergerak melemah terbatas cenderung mixed karena pengaruh bursa regional Asia yang mayoritas dibuka melemah pagi ini. Belum pulihnya harga komoditas seperti minyak dan CPO akan turut membebani market meskipun batubara dan logam industri mulai menunjukkan tanda – tanda rebound. Secara teknikal, stochastic sudah membentuk dead cross yang mengindikasikan bearish, didukung candle terakhir IHSG yang membentuk doji menunjukkan bahwa pasar masih diliputi keraguan untuk melanjutkan kenaikanya.

Melihat data – data tersebut potensi windows dressing di akhir bulan ini bisa dibilang cukup kecil, apalagi mengingat akhir pekan ini terdapat libur panjang dimana  investor akan cenderung menghindari posisi beresiko.

Dow Jones kembali pecahkan rekor

Bursa Amerika bergerak mixed dimana indeks Dow Jones berhasil pecahkan rekor tertinggi dua hari beruntun dengan kenaikan 0,44%, namun Nasdaq anjlok cukup tajam sebesar 1,27% karena investor melepas saham teknologi yang sebelumnya sudah naik tinggi dan beralih ke saham bank dan saham lainnya yang masih berpotensi naik karena membaiknya ekonomi dan peraturan pajak.

Minyak masih melemah

Harga minyak WTI memeperpanjang pelemahanya tiga hari berturut – turut dengan penurunan sebesar 0,79% menuju level USD 57,42 per barel. Harga minyak masih dibayangi keraguan tentang rencana perpanjangan upaya pemangkasan suplai di antara OPEC dan Rusia.

Batubara bergerak menguat

Harga batubara serempak menguat di kedua bursa utama dunia. Di bursa Newcastle untuk kontrak Desember, batubara naik 0,62% sedangkan di Rotterdam untuk kontrak pengiriman di bulan yang sama harganya melonjak hingga 1,09%.

Logam industri mulai rebound

Meski sentimen negatif dari pengetatan kredit beresiko di China masih ada, namun harga logam industri mencetak rebound dimana harga nickel mulai menguat 0,44% sedangkan timah dan tembaga naik tipis 0,13%  dan 0,1%.

Harga CPO terus anjlok

Harga minyak sawit lagi – lagi mengalami penurunan, kali ini sebesar 0,93% menuju level 2563 ringgit per ton. Kekhawatiran berkurangnya demand internasional seiring maraknya kampanye negatif CPO turut mempengaruhi harga pasar dan diperparah oleh merosotnya harga komoditas substitusi yaitu minyak kedelai.


Image source: ak5.picdn.net

Author


Avatar