The Prominence Office Complex Block 38G/18 Alam Sutra, Tangerang, Banten INDONESIA 0888-1314-300 | 021-300-52588 | 021-300-52589
Market Updates

Sempat bergerak melemah ke level 6214, tekanan beli yang kuat dari pasar mampu membawa IHSG kembali melaju di zona positif sekaligus mencetak rekor penutupan tertinggi selama tiga hari berturut – turut di level 6277,16 atau naik 0,90%. Pergerakan indeks ditunjang oleh kinerja positif sembilan dari sepuluh sektor dimana basic industry memimpin dengan penguatan sebesar 1,81% disusul oleh finance 1,77% dan agri 1,37%. Satu – satunya sektor yang melemah hanyalah miscellaneous industry sebesar 0,55% akibat merosotnya harga saham ASII.

Asing catatkan net buy

Penguatan IHSG juga turut didukung oleh aliran masuk dana asing yang hingga penutupan mencapai 386,04 miliar di keseluruhan pasar. BBRI, BMRI dan ADRO menjadi top net buy asing di pasar reguler sedangkan di pasar nego yang menjadi top net buy adalah IIKP, POOL dan SMRU. Sejak pekan lalu asing terpantau mulai rajin mencatatkan net buy seiring aksi windows dressing IHSG di akhir tahun.

Bursa Asia menguat

Sejumlah indeks utama di bursa Asia bergerak menghijau didorong oleh kenaikan di sektor energi terimbas melonjaknya harga minyak pasca ledakan pada pipa minyak di terminal ekspor terbesar Libya.

Indeks Nikkei Jepang naik 0,07% disusul oleh Hang Seng Hong Kong yang naik 0,18%. Indeks Kospi Korea yang pagi tadi sempat minus, juga berbalik menghijau setelah pemerintah Korsel mengatakan dalam pandangan tahunannya bahwa pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat 3,2% pada 2017, lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 3%.

Namun demikian, indeks Shanghai Composite China justru anjlok hingga 0,92% setelah laba perusahaan industri hanya naik 14,9 persen pada November 2017 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, padahal kenaikan laba pada Oktober mencapai 25,1 persen.


Image source: media.cntraveller.in

0

Morning Review

Setelah mencetak rekor penutupan tertinggi selama dua hari beruntun, IHSG hari ini kami prediksikan akan bergerak datar cenderung mixed dengan rentang yang sempit. Volume perdagangan yang tipis menjelang libur akhir tahun akan membuat pasar bergerak lesu. Secara teknikal, stochastic membentuk pola dead cross di area overbought sedangkan harga juga sudah mendekati garis fibonacci yang menjadi resisten di level 6229. Namun demikian, candlestick membentuk pola bullish marubozu yang mengindikasikan bahwa tekanan beli masih kuat sehingga potensi penurunan akan terbatas.

Bursa Amerika tergelincir

Sejumlah indeks Wall Street bergerak memerah seiring tipisnya volume perdagangan yang membuat pasar bergerak lesu. Sektor teknologi menjadi penekan setelah data penjualan Iphone X dinilai mengecewakan. Dow jones turun tipis 0,03% disusul oleh S&P 500 yang melemah 0,11% dan Nasdaq menjadi yang paling dalam dengan penurunan sebesar 0,34%.

Bursa Asia mixed

Sejumlah bursa utama Asia bergerak mixed pagi ini dimana sentimen negatif dari bursa Wall Street diimbangi oleh penguatan saham – saham energi yang melaju setelah harga minyak dunia menyentuh posisi tertingginya dalam dua tahun terakhir pada Selasa (26/12) kemarin. Indeks Nikkei 225 Jepang naik tipis 0,06%, Hang Seng menguat 0,33% dan STI Singapura naik 0,19%. Adapun Shanghai Composite China dan Kospi terpantau melemah 0,10% dan 0,40%.

Batubara Stagnan

Harga batubara tidak banyak bergerak di hari perdagangan pertama setelah natal. Pada perdagangan Selasa tadi malam, harga batu bara untuk kontrak Januari 2018, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup turn tipis 0,05% dan cenderung stagnan di US$94,90/metrik ton.

Minyak bullish

Harga minyak WTI kembali melaju 0,28% ke level USD 59,97 per barel yang mana merupakan level tertinggi sejak Juni 2015 setelah sebuah pipa yang dioperasikan oleh Waha Oil yang membawa minyak mentah ke terminal ekspor terbesar Libya meledak pada hari Selasa, menjatuhkan output negara tersebut sebesar 70.000-100.000 barel per hari.

CPO masih tertekan

Harga minyak sawit mentah (CPO) sepanjang tahun ini tercatat melemah 13,92%. Faktor cuaca yang menghambat produksi dan naiknya produksi kedelai menjadi sentimen negatif. Kenaikan pajak impor dari India serta kampanye anti deforestrasi di Eropa juga turut membebani laju CPO.


Image source: kanalaceh.com

0