Morning Review

Pergerakan IHSG menanti rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2017

Pada hari Senin ini BPS dijadwalkan akan merilis data pertumbuhan ekonomi tahun 2017 yang diperkirakan Bank indonesia akan berada di kisaran 5,1%. BI optimis bahwa pertumbuhan ekonomi 5,1% mengindikasikan bahwa Indonesia sudah mulai keluar dari fase perlambatan setelah di tahun 2016 lalu hanya mencatatkan 5,02%. Namun demikian, sejumlah ekonom berpendapat bahwa angka 5,1% akan sulit dicapai melihat realisasi di kuartal I,II dan III hanya di angka 5,01%, 5,01%, dan 5,06% yang berarti di kuartal IV diperlukan pertumbuhan ekonomi di atas 5,32%. Selain itu net ekspor yang hanya tumbuh 0,5% dan konsumsi rumah tangga yang stagnan di kisaran 4,9% cenderung tidak akan menyumbangkan banyak perubahan.

Bursa Amerika rontok

Sejumlah indeks utama Wall Street berguguran dimana Dow Jones merost hingga 2,54% sedangkan S&P 500 dan Nasdaq masing – masing terjerembab 2,12% dan 1,96%. Anjloknya indeks disebabkan oleh data tenaga kerja Amerika berada di angka 200.000 lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya di kisaran 184.000. Investor khawatir dengan adanya indikator – indikator perekonomian yang terus membaik akan menyebabkan The FED mempercepat proses penaikan suku bunga acuan yang berakibat pada meningkatnya yield obligasi. 

IHSG terseret bursa global

Pergerakan IHSG hari ini akan cenderung melemah dipengaruhi oleh merosotnya bursa Amerika dimana indeks Dow Jones ambles 2,54% yang merupakan penurunan terburuk sejak Juni 2016. Kemudian dari sektor komoditas harga batubara dan CPO yang terus anjlok dan minyak mentah yang mulai jenuh tidak akan banyak membantu pergerakan indeks. Secara teknikal, IHSG mulai keluar dari zona overbought, namun masih di kisaran level tertinggi. Stochastic membentuk golden cross yang mengindikasikan penguatan lanjutan. Support IHSG akan berada di level 6520 yang merupakan garis MA 20 sedangkan resisten di angka 6675.

Emiten batubara dalam tekanan

Penurunan saham – saham emiten batubara dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh kondisi dari luar dan dalam negeri. Dari luar negeri, harga batubara terus mengalami penurunan seiring dengan langkah pembangunan infrastruktur rel kereta untuk batubara yang dianggap dapat menurunkan tingkat ketergantungan impor. Kemudian dari dalam negeri, tekanan datang dari permintaan dirut PLN, Sofyan Basir, kepada presiden Jokowi yang mana menginginkan agar harga batubara diatur di kisaran USD 60 per metrik ton untuk mencegah fluktuasi tarif listrik.

Minyak WTI terkoreksi

Harga minyak WTI kembali tergelincir 0,53% ke level USD 65,45 per barel menyususl penguatan mata uang dolar pasca rilis data tenaga kerja Amerika yang di atas ekspektasi pasar. Selain itu peningkatan jumlah produksi minyak Amerika yang sudah mencapai level 10 juta barel per hari menimbulkan kekhawatiran akan berlebihnya suplai minyak dunia.

CPO melemah

Harga CPO kembali ke trend bearishnya dengan pelemahan sebesar 0,84% ke level 2469 ringgit per ton. Melorotnya harga CPO masih terkait dengan penurunan ekspor yang dilaporkan Data Intertek Testing Service dimana pengiriman pada periode Januari 2018 menurun 9,3% menjadi 1,29 juta ton dari 1,42 juta ton yang diekspor pada Desember 2017.

 

Image source: http://dslz2jptujwmm.cloudfront.net

Author


Avatar