Morning Review

Ditopang harga CPO dan logam industri, sanggupkah IHSG berbalik menguat?

Pergerakan IHSG hari ini kami prediksikan masih akan melemah terdampak penurunan bursa global dimana aksi jual tidak hanya terjadi di bursa Amerika saja, tapi juga Eropa dan regional Asia pagi ini. Indeks Nikkei pagi ini ambles -5,22% disusul oleh Kospi (-2,63%) kemudian Shanghai Composite dan Hang Seng masing – masing turun 1,42% dan 3,25%. Secara teknikal, IHSG masih cukup tinggi dimana indikator RSI dan Stochastic sudah berada di zona overbought. Rentang support dan resisstant ada di kisaran 6480 – 6598.

Bursa Amerika remuk

Sejumlah indeks utama bursa Amerika mengalami kejatuhan parah dan bahkan indeks Dow Jones mencatatkan penurunan terbesar dalam sejarah dimana ambles hingga 1175 poin atau -4,60%. Adapun S&P 500 dan Nasdaq tidak kalah tragis dengan penurunan sebesar 4,10% dan 3,78%. Aksi jual di pasar saham masih belum usai terdampak oleh kenaikan tajam yield US Treasury. Imbal hasil surat utang AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi empat tahun. Semalam, yield yang sama mencapai 2,88%, sebelum diperdagangkan di sekitar 2,75%.

Bursa Eropa turut ambles

Indeks Stoxx Europe 600 ditutup melemah 1,56% yang merupakan pelemahan selama enam hari beruntun. Semua sektor dalam indeks Stoxx berakhir di zona merah dengan penekan terbesar pada sektor rumah tangga dan telekomunikasi yang turun lebih dari dua persen.

CPO menguat

Di tengah harga komoditas yang turun, harga CPO berhasil rebound tipis 0,17% ke level 2493 ringgit per metrik ton. Cuaca buruk yang terjadi akhir – akhir menghambat distribusi minya sawit sehingga berpotensi terjadinya kekurangan suplai.

Logam industri cerah

Pelemahan mata uang dollar yang diukur dari dollar indeks membuat sektor logam industri bergerak menghijau. Harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,65% senilai US$ 7.091 per metrik ton. Kemudian harga timah dan nickel masing – masing menguat cukup besar yaitu 1,01% dan 1,20%.

Minyak mentah lanjut melemah

Harga minyak mentah kembali melanjutkan penurunanya. Minyak WTI ditutup merosot 2,09% ke level USD 63,66 per barel setelah produksi minyak AS diperkirakan akan terus membesar seiring dengan naiknya jumlah rig pengeboran minyak shale di AS hingga level tertinggi dalam lebih dari lima bulan terakhir pekan lalu.

Batubara melemah

Sejalan dengan penurunan minyak mentah, harga batubara ikut melemah di kedua bursa utama dunia. Di Newcastle untuk kontrak pengiriman Maret, harga batubara turun 0,34% ke level USD 102,30 per metrik ton sedangkan di Rotterdam, harganya anjlok hingga 1,43% ke level USD 86 per metrik ton.


Image source: renewalsa.sa.gov.au

Author


Avatar