Morning Review

Wall Street mampu rebound, IHSG berpotensi menguat

Jumat lalu, bursa Amerika berhasil bergerak menghijau setelah aksi jual besar – besaran di hari sebelumnya. Indeks Dow Jones melonjak 1,38% sedangkan Nasdaq dan S&P 500 masing – masing menguat 1,49% dan 1,44%. Perhatian investor mulai teralihkan dari naiknya yield obligasi AS menuju laporan keuangan perusahaan di 2017. Data terakhir dari Reuters menunjukkan bahwa laba gabungan perusahaan kuartal-IV 2017 diperkirakan meningkat 14,7% year on year, sementara pendapatan mereka diperkirakan meningkat sebesar 8,0%.

Bursa Eropa justru melemah

Penguatan wall Street tidak mampu membuat bursa eropa bergairah. Indeks Stoxx 600 turun 1,45 persen dengan seluruh sektor berada di zona merah. Saham – saham di sektor perdagangan menekan pasar menyusul laporan keuangan L’Oreal yang hanya mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 5,5%.

IHSG berpotensi menguat

Selain sentimen dari menguatnya bursa global, IHSG juga ditenagai oleh rilis data neraca pembayaran Indonesia (NPI) di 2017 yang tercatat sebesar USD 11,6 miliar. Sementara itu, defisit transaksi berjalan tahun 2017 tercatat sebesar US$ 17,3 miliar atau 1,7% dari PDB, lebih rendah dibandingkan defisit tahun sebelumnya yang sebesar 1,8% dari PDB.

Secara teknikal, rally penurunan IHSG selama dua hari terakhir sudah membuat indeks mendekati zona oversold (jenuh jual) seperti yang ditunjukkan oleh indikator RSI sehingga potensi rebound cukup besar. Selain itu stocastic membentuk pola golden cross yang meski berada di area netral cukup mengindikasikan adanya potensi bullish.

Emiten batubara terkendala regulasi

Setelah penurunan tajam harga batubara global, kini emiten batubara lokal kembali harus terpukul oleh semakin dekatnya tenggat waktu peraturan berupa keharusan menggunakan kapal berbendera Indonesia dan perusahaan asuransi Indonesia mulai April 2018. Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Batubara Indonesia, hal ini membuat beberapa pembeli potensial dari luar negeri menunda pembuatan kontrak baru.

Minyak kembali anjlok

Harga minyak dunia kembali turun tajam dimana minyak WTI merosot hingga USD 1,95 menjadi USD 59,20 per barel setelah data terbaru menunjukkan jumlah oil rig di Amerika bertambah 26 buah menjadi total 791 rig. Sebelumnya minyak juga terhantam berita jumlah produksi Amerika yang kini telah melampaui Arab Saudi di level 10,25 juta barel per hari.

CPO berhasil rebound

Meski hampir terus melemah di sepanjang sesi perdagangan , harga CPO berhasil ditutup di zona hijau dengan kenaikan sebesar 0,72% ke level 2515 ringgit per ton setelah sejumlah survei analis menyebutkan bahwa ada kemungkinan produksi sawit Januari akan turun 14,9% dibanding Desember tahun lalu.


Image source: www.varchev.com

Author


Avatar