Market Updates

Sektor mining kembali berjaya, IHSG lanjutkan penguatan di hari kedua

Pergerakan IHSG hari ini mantap berada di zona hijau dengan rentang perdagangan antara 6544 – 6595 dan ditutup naik 0,84% di leve; 6578,18. Semua sektor yang terdaftar di bursa menghijau dengan sektor mining menjadi pendorong utama seiring dengan melemahnya mata uang dolar yang membuat harga komoditas minyak, batubara dan logam industri bergerak bullish. Selain mining, sektor infrastructure dan finance naik 1,39% dan 1,14% setelah asing kembali mencatatkan net buy di saham TLKM dan emiten – emiten perbankan.

Net sell asing tidak terlalu besar

Outflow asing dari bursa hingga penutupan tidak sebesar hari – hari sebelumnya dimana hanya mencapai nominal -221 miliar di keseluruhan pasar jauh dari rata – rata outflow harian asing bulan ini di kisaran -875 miliar. ASII menjadi saham yang paling banyak dijual asing dengan net sell sebesar -132 miliar, disusul oleh HMSP (-97 miliar), UNVR (-61 miliar) dan UNTR (-58 miliar). Adapun saham – saham yang menjadi top net buy asing hari ini di antaranya adalah BBCA (99 miliar), TLKM (94 miliar), BBRI (58 miliar) dan ADRO (33 miliar).

Bursa Asia menghijau

Membaiknya kondisi bursa global yang ditandai rebound di bursa saham Eropa dan Amerika menjadi katalis positif bagi sejumlah indeks di regional Asia. Selain itu rebound harga komoditas seperti minyak, batubara dan logam industri turut membuat pasar menjadi bergairah. Secara keseluruhan indeks MSCI Asia Pasific di luar Jepang terpantau naik 1,2%.

Indeks Shanghai Composite China dan Hang Seng Hong kong memimpin penguatan pasar dengan kenaikan sebesar 0,98% dan 1,22% setelah rilis data pertumbuhan pinjaman China secara di luar dugaan melebihi ekspektasi pasar yang mengindikasikan bahwa kondisi bisnis mulai pulih pasca pengetatan kebijakan kredit di China. Selain dua indeks tersebut, indeks Kospi Korea dan ASX 200 Australia masing – masing ditutup naik 0,41% dan 0,60%.

Hal berbeda terjadi di bursa Jepang dimana indeks Nikkei yang sempat melaju hingga 1,1% terpaksa harus ditutup di zona merah setelah mata uang yen terus terapresiasi hingga 0,54% terhadap dolar Amerika. Hal ini selain membuat emiten berorientasi ekspor merugi, juga menimbulkan kekhawatiran berlanjutnya pergolakan market mengingat mata uang yen dikenal sebagai salah satu aset safe haven yang diburu ketika terjadi kejatuhan di bursa saham.


Image source: www.pinnacledigest.com

Author


Avatar