The Prominence Office Complex Block 38G/18 Alam Sutra, Tangerang, Banten INDONESIA 0888-1314-300 | 021-300-52588 | 021-300-52589
Market Updates

Pergerakan IHSG hari ini terseret oleh pelemahan bursa global pasca keputusan presiden Trump yang akan menjatuhkan bea masuk impor atas produk baja dan aluminium, masing masing sebesar 25% dan 10% yang berpotensi menimbulkan adanya perang dagang dan membuat investor khawatir. Hasilnya bursa regional Asia Sore ini bergerak melemah dan menyeret IHSG turun cukup dalam.

Indeks Nikkei Jepang ditutup anjlok 2,5% setelah mata uang yen menguat cukup tajam dan menggerus kinerja saham – saham berbasis ekspor. Di saat volatilitas market cukup tinggi, yen dan emas cenderung akan diburu karena merupakan aset safe haven. Berikutnya indeks Kospi Korea  berakhir melemah 1,04% karena produksi industri tercatat hanya bertumbuh 1% pada bulan Januari, jauh di bawah konsensus di angka 2%.

Kemudian dari China, indeks Shanghai Composite melemah 0,59% setelah pemerintah China berencana membalas penetapan tarif impor baja dan Alumunium oleh Amerika dengan cara menjual kepemilikan obligasi AS. Seperti diketahui, saat ini China merupakan kreditur asing terbesar untuk obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kemudian dari Hong Kong, indeks Hang Seng juga turut terpuruk dengan pelemahan sebesar 1,50% terdampak oleh kekhawatiran timbulnya perang dagang dan rilis data penjualan retail yang turun 1,7% year on year.

IHSG turun 0,36%

Dengan hanya didukung tiga sektor yang menguat, IHSG berakhir melemah 0,36% ke level 6582,32 setelah diperdagangkan di rentang 6561 – 6597. Tujuh sektor lain bergerak bearish dengan penekan terbesar di sektor mining (-2,68%) seiring dengan kejatuhan harga batubara dan minyak mentah. Selain mining, sektor agri yang terpukul oleh kenaikan tarif impor India juga menekan laju indeks dengan penurunan sebesar -1,30% yang kemudian disusul oleh sektor konstruksi yang merosot hingga 1,25%.


Image source: www.thenational.ae

0

Morning Review

Pergerakan IHSG hari ini kami prediksikan akan mixed dengan kecenderungan untuk menguat terbatas terdorong oleh data-data ekonomi yang cukup solid. Rilis data ekspor Indonesia ke China sepanjang 2017 menunjukkan kenaikan yang signifikan sebesar 34,10 menembus angka US$28,50 miliar jauh melampaui nilai ekspor dua tahun sebelumnya yakni pada 2015 yang hanya US$19,81 miliar atau 2016 sebesar US$21,25 miliar. Hal ini kemungkinan akan terus meningkat di tahun ini setelah kemarin data PMI China menunjukkan bahwa sektor manufaktur China secara tak terduga naik ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir didorong kebutuhan bahan baku pabrik untuk stok pada bulan lalu.

Selain data ekspor, data inflasi Indonesia di Februari menunjukkan angka yang terkendali dimana hanya sebesar 3,18% yoy di bawah ekspektasi pasar di angka 3,25% yoy. Inflasi bulanan pada bulan Februari tercatat cukup rendah 0.17% berbanding 0.62% dengan ekspektasi awal sehingga mampu meredakan kekhawatiran investor.

Bursa Amerika terus tertekan

Sejumlah indeks utama wall street melanjutkan penurunanya setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa AS akan menerapkan bea masuk baja dan aluminium pekan depan yang dikhawatirkan akan memicu timbulnya perang dagang. Indeks Dow Jones langsung anjlok 1,68% sedangkan Nasdaq dan S&P 500 masing – masing merosot 1,27% dan 1,33%. Harga saham Ford Motor turun 3% dan General Motors rontok hampir 4%. Emiten pengguna baja dan aluminium seperti Boeing, Cummins, Johnson Controls, dan United Technologies pun bergerak bearish.

Harga minyak melemah

Harga minyak WTI berakhir terkoreksi0,34% ke level USD 61,35 per barel terdampak oleh rencana penerapan bea impor baja yang akan membuat biaya untuk produksi pipa minyak membengkak. Apalagi penerapan bea masuk ini dilakukan ketika kebutuhan pipa minyak sangat besar terkait kenaikan produksi Amerika yang kini sudah melampaui 10 juta barel per hari.

Batubara masih lemah

Mengikuti minyak mentah, harga batubara di kedua bursa utama dunia melanjutkan pelemahanya dimana di bursa Newcastle untuk kontrak pengiriman April merosot hingga 1,96% ke level USD 100,00 per ton sedangkan di Rotterdam anjlok 2,68% ke level USD 79,75 per ton.


Image source: http://img2.bisnis.com

0