Morning Review

Terpengaruh kondisi bursa global, sanggupkah IHSG rebound di awal pekan?

Pergerakan IHSG hari ini akan masih akan dipengaruhi oleh bursa global yang belum begitu kondusif. Bursa Amerika dan Eropa Jumat lalu ditutup melemah sedangkan bursa regional Asia pagi ini dibuka di zona merah. Indeks Nikkei 225 merosot 0,89% diikuti Shanghai Composite dan Hang Seng yang melemah 1,57% dan 0,41%. ASX 200 Australia dan STI Singapura juga terpantau turun 0,53% dan 0,65%. Meskipun demikian secara teknikal peluang rebound IHSG cukup terbuka mengingat pada pekan lalu meskipun ditutup melemah, IHSG bergerak naik dari harga pembukaan dan membentuk pola bullish marubozu yang mengindikasikan kuatnya tekanan beli. Stochastic dan RSI masih berada di zona oversold sehingga potensi rebound cukup besar.

Bursa Amerika kembali jatuh

Sejumlah indeks utama Wall Street melemah tajam pada perdagangan Jumat lalu. Indeks DowJones ambles hingga – 1,77% sedangkan S&P 500 dan Nasdaq masing – masing merosot -2,10% dan -2,43%. Investor lebih memilih mengambil posisi aman dan mencermati perkembangan perang dagang antara Amerika dengan China setelah Kementerian Perdagangan China mengajukan daftar 128 produk impor dari USA sebagai target tindakan balasan atas penerapan tarif senilai USD60 miliar terhadap produk impor dari negeri tirai bambu tersebut.

Bursa Eropa masih bearish

Bursa Eropa masih belum bisa kembali ke zona hijau setelah indeks acuan Stoxx 600 melemah 0,9 persen ke level terendah yang dicapai Februari tahun lalu. Saham-saham basic resources dan otomotif menjadi penekan terbesar sebagai dampak dari meluasnya eskalasi perang dagang antara Amerika dengan China. Indeks FTSE,Inggris turun -0,44 persen ke level 6.921,94. Indeks DAX  Jerman melemah -1,77 persen ke posisi 11.886,31 sedangkan Indeks CAC turun -1,39 persen ke level 5.095.22.

Minyak mentah melaju

Harga minyak WTI melonjak tajam 2,60% menuju level USD 65,88 per barel,  terdorong oleh rencana Arab Saudi untuk melanjutkan pembatasan produksi OPEC dan sekutunya hingga 2019 nanti untuk menyeimbangkan suplai minnyak global. Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih, menyatakan bahwa anggota OPEC akan terus berkoordinasi dengan Rusia dan negara-negara produsen minyak non- OPEC lainnya terkait pembatasan pasokan yang semula hanya akan berlangsung hingga akhir 2018 diperpanjang hingga tahun 2019.

Batubara

Terkendalanya operasional pembangkit listrik tenaga batubara di New South Wales, Australia, dikhawatirkan akan menurunkan permintaan batubara untuk seminggu ke depan. Seperti diketahui pada pekan lalu , Australian Rail Track Corporation (ARTC) melaporkan adanya cuaca buruk berupa hujan lebat yang berpotensi banjir di sekitar New South Wales. Merespon hal ini, harga batubara terpantau bergerak melemah. Di Bursa Newcastle harga batubara drop hingga -0,49% ke level USD 92,10 per metrik ton sedangkan di bursa Rotterdam, harganya anjlok hingga -1,32% ke USD 78,50 per metrik ton.

CPO

Harga CPO di bursa Malaysia ditutup melemah 0,86% ke level 2426 ringgit per metrik ton setelah rilis data Malaysian Palm Oil Board menunjukkan bahwa produksi minyak sawit untuk periode 1-20 Maret 2018 mengalami peningkatan tajam 36,4% dari periode yang sama bulan sebelumnya. Selain hal tersebut, tekanan terhadap harga CPO juga datang dari rencana Malaysia untuk mulai memberlakukan pajak ekspor CPO sebesar 5% pada bulan April nanti. Hal itu berpeluang meningkatkan stok sekitar 15%-20% dalam jangka menengah.


Image source: http://chicagopolicyreview.org

Author


Avatar