Morning Review

Pidato Xi Jinping buka prospek baru, Wall Street melonjak tajam

Bursa Wall Street bergerak di teritori positif sejak awal pembukaan sesi. Indeks Dow Jones melaju 1,79% diikuti S&P 500 dan Nasdaq yang masing – masing melambung 1,67% dan 2,07%. Presiden Xi Jinping dalam pidatonya di Boao Forum for Asia, berjanji bahwa China akan  membuka sektor-sektor ekonomi lebih luas lagi serta menurunkan tarif impor terhadap sejumlah produk termasuk mobil.

Lebih lanjut Presiden Xi menyebutkan bahwa surplus perdagangan yang besar bukanlah tujuan utama negeri tersebut melainkan lebih menginginkan adanya keseimbangan pembayaran internasional yang lebih baik dengan jumlah saat ini. Dengan tujuan tersebut, China juga akan mempermudah akses pasar bagi investor asing yang selama ini selalu dipermasalahkan oleh pemerintahan Amerika.

Bursa Eropa bullish

Imbas pidato presiden Xi Jinping tidak hanya memberi optimisme bagi bursa Amerika tetapi juga investor – investor di Eropa. Indek Stoxx 600 melesat 1,9% dengan saham – saham otomotif mendapatkan kenaikan tertinggi karena peluang perluasan pasar ke China. Saham BMW naik 1,9%, Daimler naik 1,2%, sedangkan Volkswagen menguat 4,5%

Minyak mentah melesat

Harga minyak WTI melesat hingga 3,41% ke level USD 65,58 per barel seiring dengan pulihnya saham – saham sektor otomotif AS dan juga naiknya tensi di Timur Tengah. Seperti diberitakan, rencana pembangunan kanal Salwa oleh Arab Saudi tidak hanya akan berimbas menjadikan wilayah Qatar sebuah pulau tetapi juga akan digunakan sebagai tempat pembuangan limbah nuklir. Hal ini dipandang akan semakin memperparah hubungan antara Qatar dan kuartet Arab (Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir) yang sejak Juni tahun lalu sudah memutuskan hubungan diplomasinya.

Batubara mengekor

Mengikuti minyak mintah, harga batubara di bursa Rotterdam untuk kontrak Mei ditutup menguat 0,36% ke level USD 83,05 per metrik ton. Meski demikian, di Newcastle harga batubara justru berbalik melemah tipis 0,16% ke level USD 92,85 per metrik ton.

CPO rontok

Harga CPO berakhir melemah 1,22% ke level 2433 ringgit per ton bahkan ketika harga minyak kedelai menguat tajam 1,05%. Pelemahan harga CPO dipengaruhi oleh mata uang ringgit yang menguat hingga 0,2% terhadap dollar. Selain itu, produksi minyak sawit pada  bulan Maret yang terlihat naik 11,3% menjadi 1,49 juta ton turut memberberat laju harga CPO.


Image source: www.gannett-cdn.com

Author


Avatar