The Prominence Office Complex Block 38G/18 Alam Sutra, Tangerang, Banten INDONESIA 0888-1314-300 | 021-300-52588 | 021-300-52589
Morning Review

Harga minyak menembus level tertinggi sejak November 2014 setelah wacana pemberian sanksi bagi Iran terus bergulir. Harga minyak WTI untuk kontrak Juni 2018 ditutup melesat 1,99% ke level USD 69,79 per barel sedangkan patokan Eropa, minyak Brent, naik 1,7% ke level USD 74,87 per barel. Seperti diberitakan, pekan lalu, Menteri Luar Negeri Iran menolak permintaan AS kepada Uni Eropa untuk mengubah perjanjian internasional tentang program nuklir kedua negara yang dibuat pada 2015 silam.

Penolakan ini berujung pada ancaman akan diberikanya sanksi kepada Iran yang berpotensi menghambat produksi minyak negara tersebut. Bila benar terjadi maka suplai minyak dunia akan benar – benar berkurang. Hal ini dikarenakan sejak dicabutnya sanksi internasional pada 2016 lalu, ekspor Iran terus melejit dengan rata – rata produksi hingga 4 juta barel per hari.

Saham minyak berpotensi teknikal rebound

Meski masih dalam bearish trend, beberapa saham terkait dengan sektor ini yang mempunyai korelasi tinggi terhadap harga minyak dan berpotensi untuk mengalami teknikal rebound yaitu ELSA, MEDC, PTRO dan BIPI. Dari keempat saham tersebut sejak puncak di bulan April, PTRO telah ambrol sebanyak -31,29% diikuti oleh BIPI -26,4% kemudian ELSA -20,39%, dan MEDC -18,42%. Hal ini sesuai dengan kinerja perusahaan – perusahaan tersebut yang cenderung merosot.

PTRO misalnya di kuartal I 2018 mencatat laba USD 1,5 juta turun dari periode tahun lalu sebesar USD 2,5 juta. Kemudian MEDC mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 49,75% menjadi Rp 301,76 miliar dibandingkan kuartal I tahun lalu yaitu sebesar Rp 600,55 miliar. Untuk BIPI, laporan keuangan kuartal 1 belum dirilis hingga saat ini. Berbanding terbalik dengan dua emiten tersebut, ELSA pada akhir kuartal pertama 2018 justru membukukan laba bersih Rp70,9 miliar atau naik 1.320% dibanding periode yang sama tahun 2017 yang sebesar Rp5 miliar.

Jangan lupakan batubara

Kenaikan harga minyak pada akhir pekan lalu juga diikuti oleh harga batubara. Di Rotterdam untuk kontrak pengiriman Juli, harga batubara mendaki 0,60 dolar  ke level USD 87,50 per metrik ton sedangkan di Newcastle, batubara menguat 0,70 dolar ke level USD 98,75 per meterik ton.

Selain dari harga minyak, sentimen pendorong batubara datang dari ditutupnya terminal export terbesar Amerika di Washington yang mengirim 44 juta ton batubara ke China setiap tahunya dan juga terganggunya proses produksi perusahaan JSW Polandia pasca gempa yangmelanda negara tersebut pada Sabtu kemarin. JSW atau Jastrzebska Spolka Weglowa merupakan produsen coking coal terbesar di Eropa yang sanggup menghasilkan 10,67 juta ton batubara pada 2017 lalu.

 

Image source: https://financialtribune.com

0