The Prominence Office Complex Block 38G/18 Alam Sutra, Tangerang, Banten INDONESIA 0888-1314-300 | 021-300-52588 | 021-300-52589
Market Updates

IHSG hari ini bergerak mantap di zona hijau sejak pembukaan pasar dengan rentang perdagangan antara 5716 – 5815 dan ditutup di level 5807,38 atau naik sebanyak 1,97%. Kenaikan indeks ditopang sentimen dari penguatan rupah dan penguatan bursa utama dunia seperti Amerika, Eropa dan Asia pagi ini. Sepuluh sektor serempak bergerak menghijau dengan sektor finance memimpin penguatan sebesar 3,32%. Tiga saham perbankan blue chip yaitu  BBRI, BBCA dan BBNI berturut – turut naik sebanyak 5,9%, 4,6% dan 3,6%. Kemudian selain finance, sektor infrastructure dan basic industry menguat di atas 2%.

Di sektor infrastructure, saham TLKM yang telah berhasil break down trend terus melaju bullish dan ditutup naik 3,11% sedangkan saham PGAS meski sedikit terkoreksi dari titik tertingginya siang tadi namun masih mampu ditutup menguat 4,66%. Berikutnya kenaikan di sektor basic industry ditopang oleh kinerja saham BRPT dan INKP yang melambung di atas 5% sedangakn saham – saham semen bergerak moderat di angka 1%.

Rupiah menguat

Sempat melemah hingga ke level 14.370, Rupiah mampu berbalik menguat hingga sore ini di level 14.313 per dolar. Penguatan rupiah ini sebagai imbas dari melemahnya dollar indeks terhadap sejumlah mata uang dunia lainya setelah beberapa data-data ekonomi yang dirilis Jumat lalu sedikit mengecewakan pasar. Meski data non farm payroll cukup berkilau namun tingkat pengangguran di AS pada bulan Juni naik menjadi 4% sedangkan upah rata-rata per jam hanya meningkat 0,2% lebih rendah dari konsensus di angka 0,3%.

Bursa Asia menghijau

Sejumlah indeks utama bursa Asia serempak menghijau. Indeks Nikkei 255 Jepang melesat 2,90% disusul oleh indeks Shanghai Composite China dan Hang Seng Hong Kong yang melaju 2,47% dan 1,40%. Indeks Kospi Koreapun tidak ketinggalan dengan penguatan sebesar 0,57%. Saham – saham teknologi dan sumber daya menajdi pendorong utama pasar dan membuat indeks MSCI Asia Pacific secara keseluruhan meningkat 1,1%. Pembuat komponen elektronik besar di Jepang, Murata Manufacturing ditutup naik 5,87% diikuti Nintendo sebesar 2,53% sedangkan raksasa elektronik Korea, Samsung, melaju moderat di kisaran 1,5%.

Image source: validnews.co

0

Market Updates

Menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi hari ini, sektor mining diuntungkan oleh kenaikan harga minyak dan batubara sekaligus. Minyak WTI memanas setelah pasokan minyak Amerika mulai menipis karena pembatasan pasokan oleh AS dan belum terpenuhinya janii Arab Saudi yang akan meningkatkan produksi minyak menjadi 11 juta barel per hari. Padahal di saat yang sama suplai minyak dari Iran, Libya dan Venezuela tidak dalam kapasitas yang penuh.

Sementara itu dari sub sektor batubara, lonjakan ekspor ke China yang cukup pesat  membuat rally harga di hari keempat ini belum terhenti. Seperti diberitakan, batubara di port Australia untuk pertama kalinya sejak November 2012 menyentuh level USD 120,10 per ton. Ekspor batubara Indonesia ke China dalam 6 bulan pertama 2018 diperkirakan menyentuh angka 61,8 juta ton yang mana tumbuh 49% secara year on year dari tahun 2017 yang hanya sebesar 46,3 juta ton.

IHSG berbalik menguat

Hampir sepanjang perdagangan berada di teritori negatif, IHSG berbalik menguat menjelang akhir perdagangan dan ditutup naik 0,1% ke level 5739,33 setelah sempat melemah hingga 5685. Enam dari sepuluh sektor bergerak menghijau dengan sektor mining menjadi bintang setelah melesat 1,69% diikuti infrastructure 1,32% dan trade & service sebesar 1,20%. Adapun sektor yang menjadi penekan utama indeks adalah consumer goods yang ambles hingga -1,14% dan agriculture -0,94%.

Bursa Asia belum pulih

Sejumlah indeks –indeks utama bursa Asia kembali memperpanjang masa bearishnya. Kekhawatiran menuju detik – detik penambahan tarif impor untuk 545 jenis barang senilai sekitar 34 miliar dolar AS pada produk pertanian, kendaraan dan produk akuatik yang akan efektif mulai 6 Juli 2018 besok membuat investor menahan aksi belinya. Pemerintah China sebelumnya juga menegaskan bahwa bila tarif tersebut resmi diberlakukan maka Beijing akan membalasnya di hari yang sama. Indeks Shanghai Composite China dan Hang Seng Hong Kong merosot -0,91% dan -0,42% diikuti Kospi, Korea Selatan  -0,35% dan Nikkei 225 Jepang -0,78%.


Image Source: www.brinknews.com

0

Market Updates

Pergerakan IHSG hari ini cukup mixed dengan rentang yang lebar. Sempat menyentuh titik terendah di level 5557, indeks perlahan naik dan mampu ditutup ke level 5733,64 atau menguat sebanyak 1,77%. Tujuh dari sepuluh sektor menghijau dengan pendorong utama di sektor aneka industri yang melesat 2,47% sebelum disalip oleh consumer goods yang melambung hingga 3,24%. Sektor finance yang berkapitalisasi terbesar di BEI juga turut mendukung indeks dengan kenaikan hingga 2,40%. Volume transaksi di bursa hari ini terpantau moderat dengan nilai transaksi hingga 7,17 triliun.

Saham ASII menjadi penggerak pasar

Sempat naik hingga 5% saham ASII menjadi pendorong utama IHSG di awal – awal perdagangan. Sentimen positif dari kenaikan saham ini berasal dari rilis data penjualan mobil di 5 bulan pertama 2018 yang menunjukkan kenaikan sebesar 5,62%. Total pencapaian sepanjang Januari-Mei 2018 sebesar 494.917 unit, sedangkan pada periode yang sama 2017 lalu hanya sebanyak  467.117 unit. Apabila performa tersebut konsisten terjaga maka target penjualan mobil 2018 di angka 1,1 juta unit kemungkinan bias tercapai.

Sektor agri masih terpuruk

Bersama sektor konstruksi dan basic industry, sektor agri turut membebani penguatan IHSG dengan pelemahan sebesar 0,52%. Sentimen negatif datang dari kembali melemahnya harga CPO di bursa Malaysia sebesar 0,7% akibat lesunya data ekspor serta merosotnya harga minyak kedelai yang merupakan komoditas substitusi. Menurut survey kargo AmSpec Agri Malaysia dan Societe Generale de Surveillance, ekspor CPO Malaysia pada bulan Juni lalu tercatat turun hingga 11% secara month on month.

Rupiah perlahan menguat

Setelah kemarin sempat menyentuh level tertinggi di 14.486 per dolar AS, Rupiah hari ini terpantau bergerak menguat hingga ke titik tertingginya pada pukul 13:45 WIB tadi di level 14.320 per dolar AS.Sentimen positif dating dari pernyataan menteri keuangan Sri Mulyani yang mengatakan bahwa pemerintah akan mengkaji ulang impor barang modal dimana untuk proyek – proyek yang kurang prioritas ada kemungkinan untuk ditunda atau dikurangi nilainya. Jika kebijakan ini terealisasi maka akan berdampak positif bagi neraca perdagangan Indonesia mengingat impor barang modal memiliki porsi 16,25% terhadap total impor Indonesia selama Januari-Mei 2018 dengan nilai sebesar  US$ 12,63 miliar.

Bursa Asia ambruk

Hubungan China dan Amerika yang terus memanas memberi sentiment negatif bagi bursa – bursa di regional Asia. Seperti diberitakan, baru – baru ini China mengeluarkan travel warning bagi warganya untuk ke Amerika Serikat yang dipandang sebagai langkah politik untuk menekan Amerika setelah  Presiden Donald Trump akan memberlakukan tarif barang tambahan senilai US$ 34 miliar atau Rp 488 triliun dari Cina pada Jumat ini. Indeks Shanghai Composite merosot -1,00% diikuti Hang Seng, Hong Kong yang ambles 1,03%. Adapun Nikkei 225 Jepang dan Kospi Korea masing – masing terjerembab 0,34% dan 0,32%.

Image source: http://litbang.kemendagri.go.id

0

Market Updates

Sempat menghijau di awal perdagangan, IHSG berbalik melemah dan ditutup di level terendahnya hari ini di posisi 5746,77 atau turun sebanyak 0,9%. Saham ASII menjadi penekan utama indeks dengan kejatuhan sebesar 5,30% dan membuat sektor aneka industry merosot hingga -4,68%. Selain sektor aneka industry, delapan sektor lain juga turun cukup dalam seperti basic industry dan mining yang ambles- 2,19% dan -2,18% diikuti manufacture -1,14%, finance -0,79% serta konstruksi -0,72%. Satu-satunya sektor yang ditutup menguat hanyalah consumer goods yang naik 0,24%.

Sektor consumer terdorong data inflasi

Siang tadi BPS merilis data inflasi inflasi bulanan sebesar 0,59%, sementara inflasi tahunan diumumkan sebesar 3,12%. Angka inflasi tersebut tercatat lebih tinggi dari konsensus sebesar 0,51% MoM dan 2,97% YoY. Hal ini dipersepsikan pasar sebagai tanda pulihnya tingkat konsumsi masyarakat dan membuat saham – saham di sektor ini diborong investor. HMSP. GGRM dan KLBF sempat melesat di kisaran 5% sedangkan SIDO dan KAEF menguat hingga di atas 2%.

Dibatasi pelemahan rupiah

Penurunan IHSG sedikit banyak terpengaruh oleh pergerakan rupiah yang kembali memanas. Hingga sore ini rupiah terpantau melemah 0,63% ke level Rp 14.383 per dolar AS. Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50bps pada Jumat kemarin sepertinya belum mampu menahan kejatuhan rupiah. Hal ini menekan saham – saham yang memiliki hutang berdenominasi dollar.

Asing berbalik net sell

Sempat mencatatkan net buy hingga 95 miliar, asing perlahan keluar dari bursa dan hingga penutupan mencatatkan outflow sebesar 26,63 miliar di pasar regular. ASII dan BMRI memimpin daftar saham yang paling banyak dijual asing dengan net sell sebesar -74 miliar dan -43 miliar diikuti oleh TKIM -39 miliar, BDMN -38 miliar dan AMRT -38 miliar. Di sisi lain dua bank besar BBRI dan BBCA menjadi top net buy asing dengan pembelian bersih sebesar 93 miliar dan 55 miliar diikuti PTBA 38 miliar, INKP 37 miliar dan TLKM 23 miliar.

Image source: images.detik.net.id/

0

Market Updates

Selepas jeda sesi I saham PGAS tepantau melonjak cukup tajam dan naik hingga lebih dari 10% dalam waktu lima menit setelah perusahan tersebut dikabarkan menandatangani integrasi  antara PT PGN Tbk (PGAS) dengan Pertagas yang merupakan anak usaha Pertamina di bidang hilir migas. Menurut salah satu Deputi BUMN di bidang usaha pertambangan, Fajar Harry S, penandatanganan dilakukan di kantor pusat Pertamina siang ini dengan disaksikan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, jajaran direksi PGN, dan jajaran direksi Pertamina. Lonjakan saham PGAS ini berhasil membawa sektor infrastruktur menopang laju penguatan IHSG dengan kenaikan sebesar 2,38%.

IHSG akhiri pelemahan 3 hari beruntun

Dengan sembilan dari sepuluh sektor yang menguat, IHSG berhasil melesat 2,33% ke 5799,24 yang sekaligus menjadi level tertingginya hari ini. Sektor basic industry yang kemarin menjadi penekan utama IHSG berbalik naik 3,17% didorong rebound saham INTP dan SMGR sebesar 6,02% dan 0,71%. Berikutnya sektor finance juga melambung hingga 2,60& berkat cemerlangnya kinerja saham perbankan blue chip. BMRI melaju 5,38% diikuti BBNI 3,68%, BBRI 3,27% dan BBCA 2,51%. Selain kedua sektor tersebut, sektor lain seperti basic industry, mining, miscellaneous industry dan consumer goods juga menguat di atas 2%.

Sektor agri satu-satunya yang melemah

Sektor agriculture yang didominasi oleh saham – saham perkebunan kelapa sawit tidak mampu mempertahankan penguatanya tadi pagi dan harus ditutup turun tipis 0,01%. Penekan utama sektor ini berasal dari proyeksi harga CPO dua bulan ke depan yang diprediksikan akan turun di kisaran 2100 ringgit per ton padahal saat ini harga CPo masih berkutat di kisaran 2300 ringgit per ton. Rendahnya proyeksi harga ini disebabkan oleh peningkatan output CPO dan turunya harga komoditas pengganti yaitu minyak kedelai. Hal ini diperparah oleh permintaan China dan India yang melemah. Ekspor CPO bulan ini saja terpantau turun 15,7% menurut pemerintah Malaysia dan drop sebesar 12,6 – 14,1% menurut perusahan – perusahaan kargo.

Bursa Asia rebound

Bursa Asia sore ini berhasil mengakhiri rally pelemahanya dimana indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang mendaki hingga di atas 1%. Saham – saham di China dan Hong Kong menjadi katalis utama setelah pemerintahan China dikabarkan akan melonggarkan investasi dari luar negeri ke bidang – bidang yang berkaitan dengan perbankan, otomotif dan agriculture. Indeks Hang Seng ditutup menanjak 1,55% disusul oleh Shanghai Composite yang melesat 2,17%. Adapun Nikkei 225 dan Kospi Korea ikut ditutup menguat masing – masing 0,15% dan 0,51%.


Image source: www.bekasipos.com

0

Market Updates

Nilai tukar rupiah sore ini terus terpantau melemah cukup tajam hingga ke level Rp 13.383 per dollar AS. Nilai tersebut sekaligus menjadi yang terlemah sejak Oktober 2015 silam. Meskipun demikian, pelemahan mata uang terhadap dollar juga terjadi merata di seluruh emerging market seperti rupee India, peso Filiphina dan ringgit Malaysia. Secara year to date rupiah telah melemah 5,10 persen sejak awal tahun dan menjadikanya mata uang dengan pelemahan terbesar ketiga di Asia setelah rupee yang melemah 7,13 persen dan peso Filipina yang melemah 6,83 persen.

IHSG melemah 3 hari beruntun

Seperti halnya kemarin, IHSG yang menguat di awal perdagangan menjadi tidak bertenaga dan harus berbalik melemah hingga -2,08% ke level 5667,32 seiring dengan lesunya nilai tukar rupiah. Semua sektor mengalami penurunan dengan pelemahan tertajam pada sektor basic industry yang anjlok hingga -4,26%diikuti konstruksi -3,46% dan mining -2,70%. Saham – saham semen besar seperti SMGR dan INTP menjadi penekan utama sektor basic industry dengan penurunan sebesar 7,52% dan 5,16%. Kemudian di sektor konstruksi, pemberatnya adalah di saham – saham BUMN seperti WIKA, WSKT dan ADHI yang merosot lebih dari 3%.


Asing net sell besar


Penjualan bersih asing meningkat tajam sejak dimulainya sesi kedua dan mencatatkan nilai hingga -654,06 miliar di pasar reguler. Saham – saham perbankan selain BMRI menjadi top net sell asing dimulai dari BBCA (-175 miliar), BBRI (-116 miliar) dan BBNI (-84 miliar) diikuti UNTR (-62 miliar) dan ERAA (-60 miliar). Adapun saham – saham yang menjadi top net buy asing hari ini diantaranya adalah BMRI (68 miliar), TLKM (33 miliar), INKP (29 miliar) dan SWAT (27 miliar).

Sektor mining tidak mampu mempertahankan penguatan


Kenaikan saham – saham di sektor mining kembali terkikis setelah harga minyak WTI lengeser dari level tertingginya. Kemarin, harga minyak WTI mencapai US$ 72,76 per barel yang merupakan level tertinggi sejak 2014 setelah data keluaran Energy Information Administration menunjukkan bahwa persediaan minyak AS menurun. Stok minyak AS turun hampir 10 juta barel pada pekan lalu. Namun siang tadi harga minyak west texas intermediate (WTI) terpantau turun 0,34% ke US$ 72,51 per barel. Hal ini membuat tekanan di sektor mining semakin membesar dan berkahir dengan pelemahan sebesar -2,70%.

 

Image source: teritorial.com

0

Market Updates

Tertekan oleh pelemahan delapan indeks sektoral, IHSG yang sempat menguat harus berakhir di zona merah dengan penurunan sebesar 0,65% ke level 5787,55. Saham ASII menjadi penekan terbesar dengan penurunan sebesar -4,10% dan membuat sektor aneka industry merosot hingga -3,10%. Sektor mining yang sepanjang sesi I menopang kenaikan IHSG juga berbalik melemah hingga -1,73% akibat penurunan saham – saham berbasis batubara. Adapun dua sektor yang menguat hanyalah agriculture dan infrastructure dengan penguatan tipis masing – masing sebesar 0,13% dan 0,11%.

Harapan bagi harga CPO

Sektor agri yang sebelumnya terhantam oleh penurunan harga CPO yang berlarut – larut mendapatkan angin segar dari perkembangan restoran – restoran cepat saji di Myanmar yang berpotensi meningkatkan demand. Seperti diberitakan sebelumnya impor minyak sawit Myanmar yang sebelumnya hanya berkisar 200.000 – 300.000 ton per tahun kini meningkat pesat menjadi 750.000 ton hanya dalam waktu enam tahun dan mencetak rekor baru sebanyak 820.000 ton pada akhir 2017 lalu.

Batubara tertekan proyeksi ekspor Australia

Saham – saham batubara yang sejak awal perdagangan bergerak menguat tajam berbalik turun setelah otoritas pertambangan batubara Australia kembali memangkas proyeksi ekspor batubara dari sebelumnya 188 juta ton menjadi 180 juta ton saja di tahun ini. Produksi batubara China yang meningkat tajam di awal tahun disinyalir merupakan penyebab utama turunya ekspor.

Minyak mentah naik tipis

Meski harga saham – saham berbasis minyak terkoreksi dari kenaikanya siang tadi, minyak WTI  dan Brent sore ini terpantau naik tipis 0,35% dan 0,07%. Hal ini disebabkan karena Amerika mendorong penerapan sanksi terhadap Iran kepada negara – negara sekutunya dengan cara menghentikan kran impor dari negara Timur Tengah tersebut. Harga minyak WTI terpantau bertahan di level USD 70,78 per barel sedangkan Brent berada di posisi USD 76,19 per barel.

Image source: mining.com

0

Morning Review

Harga minyak menembus level tertinggi sejak November 2014 setelah wacana pemberian sanksi bagi Iran terus bergulir. Harga minyak WTI untuk kontrak Juni 2018 ditutup melesat 1,99% ke level USD 69,79 per barel sedangkan patokan Eropa, minyak Brent, naik 1,7% ke level USD 74,87 per barel. Seperti diberitakan, pekan lalu, Menteri Luar Negeri Iran menolak permintaan AS kepada Uni Eropa untuk mengubah perjanjian internasional tentang program nuklir kedua negara yang dibuat pada 2015 silam.

Penolakan ini berujung pada ancaman akan diberikanya sanksi kepada Iran yang berpotensi menghambat produksi minyak negara tersebut. Bila benar terjadi maka suplai minyak dunia akan benar – benar berkurang. Hal ini dikarenakan sejak dicabutnya sanksi internasional pada 2016 lalu, ekspor Iran terus melejit dengan rata – rata produksi hingga 4 juta barel per hari.

Saham minyak berpotensi teknikal rebound

Meski masih dalam bearish trend, beberapa saham terkait dengan sektor ini yang mempunyai korelasi tinggi terhadap harga minyak dan berpotensi untuk mengalami teknikal rebound yaitu ELSA, MEDC, PTRO dan BIPI. Dari keempat saham tersebut sejak puncak di bulan April, PTRO telah ambrol sebanyak -31,29% diikuti oleh BIPI -26,4% kemudian ELSA -20,39%, dan MEDC -18,42%. Hal ini sesuai dengan kinerja perusahaan – perusahaan tersebut yang cenderung merosot.

PTRO misalnya di kuartal I 2018 mencatat laba USD 1,5 juta turun dari periode tahun lalu sebesar USD 2,5 juta. Kemudian MEDC mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 49,75% menjadi Rp 301,76 miliar dibandingkan kuartal I tahun lalu yaitu sebesar Rp 600,55 miliar. Untuk BIPI, laporan keuangan kuartal 1 belum dirilis hingga saat ini. Berbanding terbalik dengan dua emiten tersebut, ELSA pada akhir kuartal pertama 2018 justru membukukan laba bersih Rp70,9 miliar atau naik 1.320% dibanding periode yang sama tahun 2017 yang sebesar Rp5 miliar.

Jangan lupakan batubara

Kenaikan harga minyak pada akhir pekan lalu juga diikuti oleh harga batubara. Di Rotterdam untuk kontrak pengiriman Juli, harga batubara mendaki 0,60 dolar  ke level USD 87,50 per metrik ton sedangkan di Newcastle, batubara menguat 0,70 dolar ke level USD 98,75 per meterik ton.

Selain dari harga minyak, sentimen pendorong batubara datang dari ditutupnya terminal export terbesar Amerika di Washington yang mengirim 44 juta ton batubara ke China setiap tahunya dan juga terganggunya proses produksi perusahaan JSW Polandia pasca gempa yangmelanda negara tersebut pada Sabtu kemarin. JSW atau Jastrzebska Spolka Weglowa merupakan produsen coking coal terbesar di Eropa yang sanggup menghasilkan 10,67 juta ton batubara pada 2017 lalu.

 

Image source: https://financialtribune.com

0

Morning Review

Pada Sabtu lalu, presiden Korea Utara, Kim Jong Un menyatakan bahwa negara tersebut akan menghentikan uji coba nuklir dan peluncuran rudal balistik antar benua karena telah menyelesaikan tujuan untuk mengembangkan senjata nuklir. Lebih lanjut, Korut bahkan akan  melenyapkan tempat uji coba senjata nuklir di negaranya. Hal itu dilakukan demi mengejar pertumbuhan ekonomi negara dan mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea.  Pasca pernyataan tersebut, sambutan positif datang dari berbagai negara seperti China, Amerika dan Eropa yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kemajuan yang positif serta merupakan berita baik bagi dunia.

Meskipun demikian, fokus bursa regional Asia masih tertuju pada laporan keuangan emiten – emiten yang baru akan dirilis pekan ini sehingga membuat investor melakukan aksi wait and see. Sejumlah indeks utama Asia bergerak sideways dengan kecenderungan menguat tipis. Indeks Nikkei 225 melemah 0,1% diikuti oleh Kospi yang merosot 0,17% namunn Shanghai Composite, Hang Seng dan STI Singapura serempak  menghijau di kisaran 0,40%.

Bursa Amerika tertekan

Ketiga indeks utama Wall Street memperpanjang pelemahanya tertekan oleh merosotnya saham – saham teknologi dan saham konsumen staples. Tekanan jual meningkat karena imbal hasil obligasi AS tenor 10-tahun (US Treasury) mencapai level tertinggi dalam empat tahun, yaitu di angka 2,956%. Investor menjual Treasurys karena mereka khawatir bahwa tekanan upah dan kebijakan proteksionis dari administrasi Gedung Putih akan mengirim inflasi lebih tinggi. Indeks Dow Jones pun ditutup melemah 0,82% disusul S&P 500 dan Nasdaq yang anjlok 0,85% dan 1,27%.

Bursa Eropa datar

Pergerakan sejumlah indeks di bursa Eropa cukup stagnan pada penutupan market pekan lalu. Indeks benchmark Eropa, the Stoxx 600 melemah tipis 0,03 persen. Perhatian pasar tertuju pada rilis data kinerja laba emiten sambil mewaspadai perkembangan global seperti potensi perang dagang, kenaikan suku bunga di USA yang lebih cepat dan peraturan baru mengenai regulasi di bidang teknologi terkait penyalahgunaan data facebook baru – baru ini.

Minyak mentah terpengaruh sentimen dari Arab

Meski sempat mengalami tekanan dari komentar Donald Trump, harga minyak masih ditutup menguat 0,41% ke level USD 68,40 per barel. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik OPEC bahwa harga yang terlalu tinggi terasa terlalu dibuat-buat dan masih bersiap untuk kenaikan harga mingguan. Namun demikian, beberapa kondisi di timur tengah yang terjadi baru – baru ini diperkirakan akan menjadi katalis harga minyak. Pada Sabtu lalu sebuah jaringan pipa di Libya, yang dimiliki perusahaan minyak Al Waha, dibakar oleh teroris dan mengakibatkan hilangnya 70.000-100.000 barel minyak per hari.

Batubara mengikuti

Mengekor harga minyak, komoditas batubara ikut bergerak naik. Di bursa Rotterdam untuk kontrak Mei, harga batubara naik tipis 0,24% ke level USD 83,95 per metrik ton sedangkan di Newcastle, harganya hanya naik tipis 0,11% ke USD 93,60 per metrik ton. Batubara sedang dibayangi oleh sentimen negatif dari Eropa dimana Bank terbesar di region tersebut, HSBC, mengatakan bahwa akan mengikuti jejak ING dan BNP Paribas untuk menghentikan seluruhnya pendanaan terhadap pembangunan pembangkit listrik batubara, pengeboran minyak maupun eksplorasi lain yang berkaitan dengan bahan bakar fossil.

CPO belum beranjak

Harga CPO kembali mendekat ke level 2400 ringgit per ton setelah Jumat lalu ditutup merosot 0,2%ke posisi 2403 ringgit per ton karena proyeksi pertumbuhan produksi. Hingga pertengahan April produksi CPO masih terpantau naik 6% meski pada Maret lalu produksi sudah melejit hingga 17,2% menjadi 1,57% yang merupakan angka tertinggi bulanan sejak tahun 2000.

image source: http://www.tiuppeluit.com

0

Morning Review

Pada perdagangan kemarin sektor Agri berhasil menahan kejatuhan IHSG dengan penguatan di atas 1%. Saham – saham perkebunan kelapa sawit bergerak naik ditenagai oleh berbagai sentimen positif. Dari Malaysia, harga CPO terpantau melonjak 1,60% kembali di atas level 2400 ringgit per ton setelah lembaga riset lokal merilis proyeksi harga CPO di pertengahan 2018 akan bergerak ke level 2600 ringgit per ton. Hal ini terjadi karena adanya kekurangan supply pada komoditas pengganti CPO yaitu minyak kedelai akibat cuaca kering di Argentina yang membuat panen kedelai merosot 32% menjadi hanya 37 juta ton saja. Penurunan panen juga disebabkan oleh lahan perkebunan kedelai yang menurut Departemen Amerika akan menyusut 1 % menjadi hanya 36 juta hektar.

China setuju tingkatkan ekspor CPO

Dari dalam negeri, sentimen penggerak harga datang dari beredarnya kabar bahwa pemerintah China menyetujui peningkatan volume impor kelapa sawit dari Indonesia sambil perlahan mengurangi impor kedelai dari Amerika Serikat. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, dalam rangkaian kunjungan kerja ke China pada 12-14 April lalu. Lebih lanjut Luhut menyatakan bahwa penambahan impor sawit dari Indonesia bisa diumumkan secara resmi oleh PM China saat melakukan kunjungan ke Indonesia pada 6 Mei mendatang.

Ekspor masih meningkat

Kenaikan tarif impor India pada bulan lalu sempat memukul industri CPO, namun ternyata ekspor CPO masih tetap kuat. Laporan Societe Generale de Surveillance’s (SGS) menunjukkan, ekspor CPO Malaysia telah meningkat dua kali lipat menjelang musim panas tahun ini (secara year on year). Kemudian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) merilis, pada periode yang sama ekspor CPO ke India tercatat 7,63 juta ton atau naik 32,01% dari tahun sebelumnya 5,78 juta ton. Ekspor CPO dari Indonesia ke China juga terpantau masih tinggi. Pada 2016, nilai impor kelapa sawit China dari Indonesia mencapai 3,23 juta ton. Kemudian pada 2017 nilai itu meningkat menjadi 3,73 juta ton.

Tantangan dari Eropa

Meski proyeksi CPO cukup bagus namun saat ini pergerakan harganya masih dalam trend bearish. Selain karena mulai pulihnya produksi, kampanye negatif terhadap penggunaan CPO di Eropa membuat supermarket besar Inggris, Iceland Co, melarang jaringan supermarketnya untuk menggunakan kandungan minyak sawit terhadap produk yang dijualnya. Apabila hal ini terus berlangsung dan meluas maka akan merugikan industri CPO karena pasar Eropa merupakan salah satu pasar yang potensial dengan jumlah kebutuhan mencapai 6 juta–7 juta ton per tahun.

 

Image source: https://i0.wp.com/www.landsalemalaysia.com

0

PREVIOUS POSTSPage 2 of 26NEXT POSTS